BIOGRAFI AS-SYAIKH ZAKARIYA AL-ANSHORY (826-926/1423-1520)

May 1, 2015 by

As-syaikh Zakariya Al-Anshory berasal dari desa Khajraj, As-syaikh Yang namanya tidak asing ditelinga para santri ini datang menuntut ilmu ke Mesir, tepatnya di Univesitas terbesar Mesir Al-Azar, ketika berusia 18th.
Tentang perjalanan hidupnya sejak mulai datang kemesir hingga akhir hayatnya , telah diceritakan kepada murit kesayangannya Syekh  Sya’roni.
“Apakah kamu mau, aku ceritakan perjalanan hidupku mulai awal hingga akhir, supaya keilmuanmu menjadi dalam sehingga tercatat dalam benakmu seolah-olah kamu hidup bersamaku sejak awal hidupku?”

“tentu saja wahai guruku…” jawab Syekh Sya’roni
“Aku datang dari kampungku, menuju Al-Azhar, saat itu aku adalah pemuda yang lugu, belum ada tempat yang aku singgahi dan tak seorangpun memperhatikanku”
Begitu AS-SYAIKH Zakariya Al-Anshori memulai hikayah hidupnya kepada Syekh Sya’roni.
“Keadaan semacam itu tidak membuatku surut untuk memperdalam ilmu keislaman.Ibarat orang minum air laut, semakin aku meminumnya aku semakin haus dan seperti mau meraih semuanya”.
Lanjut Syekh agung ini yang disimak khusyu’ murid sejatinya.
“Suatu malam, aku lupa kapan itu terjadi, aku keluar mengambil kulit semangka yang tergeletak hina di samping tempat wudlu. Aku mencucinya dan makan rizki yang bagiku itu sangat berarti. Rupanya kebiasaan orang miskin yang aku jalani ini diketahui oleh seseorang yang kemudian aku ketahui bekerja di tempat penggilingan gandum. Mungkin karena iba dengan nasibku, tapi yang pasti beliau sangat baik dan berjasa dalam hidupku, orang itu membelikan aku semua kebutuhanku dari buku-buku dan pakaian.”
“Zakaria, jangan pernah meminta sesuatu kepada siapapun. Apapun yang kamu perlukan akan aku penuhi”
Demikian ucap orang mulia ini suatu ketika.
Hal ini berlangsunkag bertahun-tahun. Hingga suatu ketika di malam yang sepi, ketika orang-orang sedang tidur, tiba-tiba sang dermawan itu mendatangiku
“Bangunlah”,
Begitu ucapnya kepadaku..
Aku berjalan mengikuti langkah-langkahnya dan berhenti di suatu tangga tempat bahan bakar. Tangga itu lumayan tinggi. Di tengah pikiranku yang berkecamukmengapa aku dibawa ke tempat ini tiba-tiba orang mulia itu berkata kepadaku:
“Naiklah “
“Naik tangga ini ?”
Aku bertanya dalam bimbang.
“Ya, naikilah tangga itu. “
Aku mendaki tangga itu dengan pelan dan terus berpikir apa makna semua ini. Orang tua asuhku itu terus bilang, “Ayo terus naik, terus “.
Setelah aku sampai di puncak beliau berkata :
“Kamu akan tetap hidup sementara semua kawan sezamanmu telah mati. Kamu akan unggul melebihi semua ulama Mesir. Murid-muridmu akan menjadi guru-guru besar. Inilah yang terjadi dalam kehidupanmu hingga tertutup penglihatanmu”.
“Berarti aku akan menjadi buta?”  dalam benakku terucap…
Beliau melanjutkan kata-katanya, yang seolah membrondong dekup dadaku..
“Sabarlah itu sudah menjadi suratan wajib bagimu”.
Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu beliau lagi, ujar cerita Imam Besar ini kepada santri kesayangannya Syekh Sya’oni.
SYEIKH ZAKARIA, AKTIVITI KEILMUAN DAN KESUFIAN .
Secara konsisten Syekh Zakaria belajar, mengaji di Al-Azhar, Beliau mendengarkan pengajian para Ulama, para Ahli fikih serta para Ahli tasawwuf secara khusus.
Hingga akhirnya beliau menjadi seorang tokoh central fikih dan tasawwuf. Bagi sufi agung ini waktu mempunyai arti yang sangat besar. Dalam hal ini, Syekh Sya’roni berkata:
“Saya telah melayani beliau selama 20 tahun. Sungguh saya tidak pernah mendapatkan dirinya lupa sedikitpun. Beliau tidak pernah melakukan suatu pekerjaan yang tidak ada artinya, baik siang maupun malam”.
Seiring dengan perjalanan  usia-nya, beliau selalu melakukan shalat sunnah secara sempurna. Beliau berkata:
“Saya tidak ingin diri ini kembali menjadi seorang pemalas”.
Apabila beliau didatangi oleh seseorang yang banyak omongnya, beliau akan langsung berkata:
“Kamu telah menyia-nyiakan waktu kita”.
Dalam waktu yang cukup lama beliau selalu menyempatkan diri untuk berdiam diri dalam sebuah Khanqah saidus suada’ (tempat berkontemplasi dan bertafakurnya Para Sufi).
“Sejak kecil saya telah menyukai Thariqah kaum sufi. Kesibukanku selalu aku isi dengan membaca buku-buku mereka dan mengambil pelajaran dari tingkah laku mereka, serta berkumpul dengan para ahli tasawwuf” demikian Syekh Zakaria berujar kepada Syekh Sya’roni suatu ketika.
Dalam Khanqah ini beliau selalu berkumpul dengan Para Ahli sufi untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka. Demikian juga mereka mengambil manfaat ilmu beliau dalam fikih dan syariat. Kehidupan beliau di dalam Khonqoh banyak mempengaruhi beberapa karyatulis beliau, seperti Syarah Risalah Al-Qusyairy ( dalam ilmu Tasawwuf), Qowaid sufiah ( dalamm kaedah-kaedah para Sufi), serta catatan pinggir/ Hayiah beliau dalam kitab Tafsir Baidlowi. Kiranya sangat bermanfaat di sini untuk mengetahui sejarah khanqah saidus suada’.
Tempat itu adalah pertama kali yang didirikan di Mesir. Sekaligus merupakan tempat untuk berkontemplasi Syekh Zakaria untuk waktu yang lama. Syekh Zakaria telah mempersiapkan dirinya di khanqah saidus suada’ untuk menulis beberapa karangannya yang besar, sebut saja misalnya:
Syarh Bukhari. Kadang-kadang beliau menyuruh muridnya Syekh Sya’roni untuk membantu menulis.
Syekh Sya’roni berkata:
“Tulisan saya bagus”.
Dia menambahkan,
“Apabila saya duduk dengan beliau, seolah-olah saya duduk dengan para raja yang shalih yang arif. Mufti besar Mesir, para Pangeran dan Pembesar ketika duduk di hadapan beliau seperti anak-anak kecil dihadapan orangtuanya”.
KAROMAH AS-SYAIKH ZAKARIYA AL-ANSHARY
Raja Al-Ghoury suatu ketika marah karena satu peristiwa. Ketika dia tahu akan kedatangan Syekh Zakariya untuk menyelesaikan masalah ini, dia memerintahkan supaya di depan rumahnya dipasang rantai. Ketika Syekh Zakariya melihat ada rantai, beliau memotong rantai tadi dengan kertas yang ada di tanganya. Selanjutnya beliau masuk bersama para penduduk. Tertulis dalam biografi beliau, bahwa permulaan “Kasyf” (tersingkapnya rahasia ilahi) muncul setelah beliau mengarang Kitab Syarah Bahjah, di mana orang-orang tercengan seakan berkata tidak mengakui bahwa itu merupakan karangan beliau. Mereka menulis kitab Al-A’ma wal Bashir sebagai komentar dan celaan terhadap beliau. Dalam kitab ini Syekh Zakaria bercerita :
“Aku adalah orang yang doanya selalu dikabulkan. Setiap aku mendoakan seseorang,maka doa permohonan itu pasti diterima”.
“Waktu itu aku sedang i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan di Masjid al-Azhar, demikian beliau melanjutkan kisah Kasyaf –nya, tiba-tiba aku didatangi seorang pedagang dari Negeri Syam.
“Mata saya telah buta,” kata orang itu memulai kata-katanya,
“orang-orang menunjukkan saya agar datang kepadamu wahai Syekh, doakan saya supaya penglihatan saya dikembalikan”
Kemudian saya berdoa kepada Allah memohon supaya penglihatannya dikembalikan.
“Kalau penglihatanmu dikembalikan, kamu harus meninggalkan negeri ini”. Begitu aku katakan kepadanya,
Karena dalam kasyf-ku ia sembuh dalam sepuluh hari, karena aku takut jika dia sembuh di Mesir, dia akan cerita pada orang banyak. Maka pergilah pedagang tersebut dan dikembalikan penglihatannya di Gaza (Palestina).
Setelah sembuh dia mengirim surat dan saya membalasnya.
“Jika engkau kembali ke Mesir, maka kamu akan buta lagi”,
Dan demikianlah, dia terus menetap di Al-Quds, sampai akhirnya mati dalam keadaan tidak buta.
Syekh Sya’roni bercerita :
“Suatu hari aku mengaji pada beliau Syarh Bukhori. Di tengah-tengah aku membaca, beliau berkata padaku. “Cukup, ceritakan padaku mimpimu malam ini”.
Memang aku telah bermimpi aku bersama Syekh Zakaria dalam suatu kapal yang layarnya dari sutra, tampar dan permadaninya dari sutra hijau tipis, ada banyak balai-balai dan bantal dari sutra. Di situ aku melihat Imam Syafi’i duduk dan Syekh Zakaria di sampingnya. Kapal ini terus berjalan dan berhenti di pulau bak hati ikan yang sangat Indah. Ada perkebunan, buah buahan dan wanita-wanita cantik.
Selesai aku bercerita Syekh Zakaria berkata:
“Kalau mimpimu ini benar, maka aku akan dimakamkan di samping Imam Syafi’i radiallahu ‘anhu.”
Ketika Syekh Zakaria meninggal, para muridnya telah menyiapkan makam untuk beliau di Bab Nasr, lalu kawan Sya’roni yang tahu tentang mimpinya barkata:
“Wahai Sya’roni, mimpimu bohong”.
Pada saat itu datanglah utusan dari Pangeran Khair Bik (wakil raja) sambil berkata:
“Raja sekarang ini sedang sakit dan tidak mampu datang ke sini. Raja memerintahkan kalian untuk membawa Syekh Zakaria ke medan Qal’ah untuk dishalati di sana”.
Setelah selesai shalat, Khair Bik berkata :
”Makamkan saja Syekh Zakaria di pemakaman Syekh Najmuddin Al-Khayusyani di depan makam Imam Syafi’i”.
As-Syaikh Zakariya Al-Anshori telah kembali kerahmatulloh pada bulan Dzulhijjah tahun 926 H.

Related Posts

Tags

Share This

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *